Benarkah “life begin at 30?”
Bahkan aku baru saja ingin
memulai. Maksud ku aku baru saja bisa memulai. Memikirkan setiap detail
langkahku. Yang tadinya aku hanya berbelok ke kiri mengikuti arah angin, kini
tiap centimeter langkah kecil, penuh dengan makna.
Selama ini aku merasa sudah
mengetahui segalanya. Sok mengerti akan setiap kejadian sekitar. Aku terlaku
sok tau tentang isi pikiran dan hati orang lain.
Sampai saat ini, aku duduk
mengetik hal di atas, aku baru menyadari, aku bahkan tidak paham isi pikiran
dan hati ku sendiri.
Ada suatu ketika, dimana aku
menghadapi suatu kejadian yang cukup membuat diriku cukup tertampar & hati
seakan baru saja dihantam barbel 5 kilo. Aku tidak akan mencerritakan detail,
karena bisa saja inii tidak cukup berat untuk sebagian orang, tapi teramat
berat untuk level kekuatan mental ku. Hingga cukup membuatku hanya berdiam diri
selama 3 hari di kamar, tidur sepanjang waktu seakan aku sangat malas
berinteraksi dengan makhluk apapun juga. Saat itu aku berpikir, apa gunanya
menjadi baik kalau akhirnya akan tersakiti juga oleh orang terdekat. Semua terasa
sia-sia, hanya karena aku tidak menyatakan isi pikiranku kepada sahabatku sejak
awal. Intinya saat itu aku kalah telak. Dan aku menata hati sekuat tenaga, demi
keadamaian dan alasan agar aku diterima sebagai salah satu makhluk social. Ada
kalanya seperti ingin balas dendam. Melihat wajahnya saja aku sangat muak.
Saat aku itu aku baru menyadari
sifat pendedam ku ternyata nyata ada nya. Aku merangkai segala macam rencana
buruk yang aku sendiri tak sangka-sangka. Ternyata aku bisa jahat juga. Benar
kata orang-orang menjadi orang baik dan selalu tulus itu melelahkan. Tidak mungkin
seseorang tidak memiliki suatu sisi buruk di dalam dirinya. Terimasuk aku.
Aku merasa aku selama ini naif
dan tidak jujur pada diri sendiri. Dan aku menyadari sifat burukku di usia
menuju 31 tahun saat aku menulis ini. Tau tentang diri sendiri ini memang cukup
terlambat karena apa? Karena aku tidak cukup peka terhadap diri sendiri. Aku terlalu
sibuk menyenangkan lingkungan sekitar ku hanya dengan alasan ingin diterima
sebagai makhluk sosial.
Ada kalanya, pun aku tidak menyadari
aku bisan loss juga. Beberapa hari yang lalu,seorang teman kantor yang aku
kenal selama kurang lebih 4 tahun, namun tidak terlalu dekat, menyampaikan isi
pikirannya tentang aku. Apa yang mereka pikirkan tentang aku selama ini.
Bahwa aku adalah orang yang sulit
dipahami isi pikirannya.
Memang 2 tahun belakangan aku
memang menyadari aku cukup complex namun tidak cukup pintar sebagai manusia
untuk tau cara menanggulangi dan mengontrol
tindakan ku. Sampai pada akhirnya saat ada orang yang mengenalku
menyampaikan hal sejujurnya mengenai kelemahanku, aku cukup tertampar lagi dan
lagi, yang kemudian membuatku kembali me- refefleksi kan diri. Mulai menilai
diri sendiri, tentang betapa vulgar nya sifatku hingga membuat orang menilai ku
seenaknya. Tanpa terlebih menilai diriku yang sebenarnya bagaimana.
Walaupun aku tau dia ada
benarnya, namun kenapa aku yang sedang berusia menuju 31 tahun ini tidak cukup
kuat untuk mendengarnya ya? Mungkin ini yang dimaksud dengan “life begin at 30”
?
Comments
Post a Comment