Apakah Kontemplasi akan bermanfaat untukku?

Setiap manusia di muka bumi ini, pasti pernah mengalami pasang surut nya kehidupan. Tidak terkecuali saya. Ada kalanya setiap masalah yang sedang dihadapi atau pernah di hadapi, rasanya otak ingin membuncah dan melontarkan kata-kata ke siapa saja yang siap sedia mendengarkan (dalam arti “curhat”)

Tapi tidak semua lawan bicara, bisa/betah mendengarkan bacotan kita yang memang kalau lagi stress atau semrawut pasti akan sulit dimengerti oleh orang lain. Jangankan oleh orang lain, mendengarkan ocehan diri sendiri saja terkadang buat kita pusing sendiri.

Pada suatu siang hari dimana saya bersama dengan salah seorang kolega kantor, memutuskan untuk makan siang bersama.

Sebut saja namanya Andi. Siang itu Andi terlihat sangat murung. Wajahnya tampak surut dan bicara nya sangat irit, walaupun Andi yang saya kenal memang selalu bicara irit sih, namun siang itu tidak seperti biasanya. Andi, dikenal sangat tertutup, tidak suka mengumbar cerita pekerjaannya apalagi cerita pribadi nya. Andi adalah sosok pelengkap dari geng makan siang saya dan teman-teman. Namun jika tidak ada Andi tetap terasa ada yang kurang.

Saya memberanikan diri, dengan bahasa yang sopan tentunya, menayakan kepada Andi ada apa gerangan hari itu yang terjadi sehingga rona wajahnya seperti kain sisa pel-an. Hehe

“Lagi ada problem dengan atasan gue.”

Saya dengan pribadi yang super kepo ini tanpa basa-basi bertanya : “loh ada apa? Ribut lagi ya”

Kembali ke sekitar 1-2 tahun yang lalu, Andi memang pernah bermasalah dengan atasannya dan hal ini menjadi bahan kerjaan manager HRD. 

Pada intinya saat kami berdua duduk berhadapan, menikmati seporsi indomie goreng lengkap dengan es teh tarik sachet-an, saya mencoba mengulik Andi mana tau dia bisa terbuka dengan saya. Dan benar saja, setelah penetrasi berkali-kali, Andi akhirnya buka suara.

“Gue mendapat tutur kata yang kurang pantas dari atasan gue, sehingga secara mendadak si atasan itu sendiri menyadari kesalahannya, dan hari ini beliau tidak masuk kantor. Mungkin karena malu sendiri”

Saya masih terdiam. Menanti Andi melanjutkan cerita nya. Dan dugaan saya salah, Andi hanya menutup pembicaraan nya dengan : “Tapi gue ga akan spill apa, karena jujur gue masih ada rasa kasihan dengan beliau. Jadi sebaiknya ga gue ceritakan”

Disitu saya melihat raut bijaksana dari seorang Andi si pendiam dan pelengkap di group kami.

Sedikit saya ceritakan, sayapun pernah merasakan di posisi Andi, ribut dengan atasan sendiri. Keadaan yang sangat teramat menyiksa. Saat itu saya tidak bisa seperti Andi, dengan karakter saya yang masih sangat egois dan tidak mau kalah ini, saya babat habis dan saya lawan arus atasan saya. Dan benar saja saya berakhir dengan di cuek-in selama 2 bulan dan manager HRD jobless yang saya sebut di atas, menawarkan : “Jangan resign ya, saya bisa saja melakukan mutasi untuk kamu” yang kemudian saya sambut dengan buru-buru minta maaf kepada atasan saya mengakui kesalahan, mengibarkan bendera putih. Dengan pertimbangan lokasi kantor saya saat ini tidak terlalu jauh dari rumah. That’s it.

 Saya kemudian menyambut closing-an Andi dengan pertanyaan “Lo pernah melakukan yang nama nya kontemplasi?”

Andi seketika tertarik dengan opening saya.

Kontemplasi yang saya tau hanya sebatas, “berkomunikasi/berbicara/berdialog dengan diri sendiri” Hanya sebatas itu.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi), “Kontemplasi” adalah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh.

Ada beberapa manfaat berbicara dengan sendiri untuk otak kita, antara lain: (saya mengutip ini dari artikel detik.com)

1.       Mempertajam Kognitif.

2.       Mengurangi Stress

3.       Mendapat pemahaman tentang diri sendiri

4.       Meningkatkan performa dan konsntrasi dalam pekerjaan

5.       Membantu merefleksikan sesuatu

6.       Meningkatkan memori

7.       Membantu memecahkan masalah.

Hal di atas tidak akan saya bahas semuanya, saya hanya akan fokus pada 1 poin yang paling relate dengan kehidupan saya akhir-akhir ini. Dan itu adalah Mendapat pemahaman tentang diri sendiri.

Tidak bisa dipungkiri masa pandemic yang sudah berjalan menuju 2 tahun di Indonesia, sedikit banyak mempengaruhi saya dalam cara berpikir. Saya memliki banyak waktu luang di sela-sela pekerjaan yang ruwet. Namun, saya menjadi dapat mengukur diri dan lebih detail terhadap kualitas diri sendiri. Dalam hal ini cara saya berpikir dan bertindak. Dahulu, saya adalah orang yang serba terburu-buru dan gampang panik dalam segala hal, sehingga rush dan banyak tindakan spontan dan tersering gegabah. Berkat pandemik, saya dapat mempelajari isi pikiran dan isi hati dengan perlahan dan lebih detail. Saya menjadi lebih sensitif terhadap berbagai macam hal, baik itu berhubungan dengan saya atau sekedar mengamati orang lain.

Salah satu yang paling biasa saya lakukan sehari-hari salah satunya adalah kontemplasi.

Saya rutin melakukan dialog dengan diri sendiri. Entah itu berkendara saat pergi-pulang kerja. Atau saat menuju waktu istirahat. Bahkan saat mandi pun saya melakukan kontemplasi. Rasanya seperti memilik teman pribadi sendiri. Mungkin orang awam akan melihat (membaca) nya ini seperti halusinasi ataupun ciri-ciri disleksia hehe, namun ternyata hal ini justru membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik. Dan saya baru menyadari hal ini.

Banyak hal-hal dan fakta menarik yang saya sendiri juga terkaget-kaget. Saya merasa selama ini kurang ‘present’ dalam suatu percakapan di dalam suatu group, kemudian saya mendadak jadi lebih interest terhadap pembicaraan seseorang. Saya baru menyadari bahwa berbicara dengan diri sendiri menstimulan saya untuk menjadi pendengar yang lebih baik. Bukan melulu tentang diri saya, namun sisi dari orang lain sangat amat bisa menjadi ‘makanan hidup’ dan ‘obat batin’ bagi saya. Dahulu saya yang terbiasa menganggap remeh bahan bicara seseorang kemudian mendadak jadi lebih menghargai pendapat orang lain. Melihat cara pandang dari perspektif lawan bicara. Dan secara tidak langsung saya jadi lebih menghargai perbedaan pendapat. Selera masing-masing orang.

Lalu bagaimana jika sedang menghadapi suatu masalah, apakah saya sanggup melakukan kontemplasi. Saya biasa nya memang melakukan hal ini, tidak hanya saat menghadapi masalah namun ketika mendapati diri saya sedang menghadapi turunan emosi lainnya seperti ; sedih, marah, cemburu, overpride, rendah hati, dll.

Biasa nya saya langsung bertanya. “apa yang sedang kamu rasakan?” “Apa yang membuat sedih?” “apakah hal itu membuat sedih yang B aja atau sedih level dewa?” “kira-kira kenapa orang itu melakukan hal itu kepada saya?” “apakah orang itu menyampaikan nya hanya sebatas kata-kata atau memang ada niat terselubung?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin muncul semengalir mungkin.

Saya menjadi terbiasa menganalisa permasalahan emosional yang membelut pikiran dan hati saya. Menjadi sangat sensitif. Namun terkadang saking terlalu larutnya, merasa akan gila sendiri.

Namun, hal itu ternyata adalah proses nya yang harus saya hadapi. Dan kemudian saya dapatkan hasilnya. Hati terasa lebih lega, perasaan didengarkan oleh sisi lain diri yang hadir dalam pikiran kita menjadi seperti ada teman sendiri. Teman yang ramah, teman yang selalu ada mendengarkan keluh kesah.

Saya rasa, setiap orang pasti pernah melakukan kontemplasi, namun mungkin beberapa ada yang tidak sadar sedang melakukannya. Hal ini mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu opsi me time. Ini adalah sesuatu yang baik. Terbukti bermanfaat untuk diri sendiri. Perlu untuk dilakukan secara rutin. Dan saya tidak keberatan melakukannya di masa yang akan datang. Bagaimana dengan kamu? Apakah sudah pernah melakukan kontemplasi?

 

 

Comments

Popular posts from this blog

"Bercerai"

Benarkah “life begin at 30?”