"Bercerai"

Mulanya saya bersama dengan kawan sejawat sedang berdiskusi ringan sore itu. Bersenda gurau layaknya sekumpulan remaja tua yang haus akan hiburan. Awalnya terasa seru sampai saat matahari mulai terbenam, mendadak pembahasannya berubah menuju topik lumayan menegangkan (setidaknya untuk saya). 
Ada berita viral akhir-akhir ini yang seliweran muncul di media sosial dan menarik perhatian masayarakat urban, selain isu polusi udara yang menyerang kota Jakarta. Tak lain dan tak bukan adalah perselingkuhan 2 publik figur melalui aplikasi chat dan dianggap netizen yang maha benar sesuatu yang kurang normal. Bukan whatsapp, bukan line, bukan room chat lainnya, namun aplikasi layanan logistik berbasis online, sebut saja Gojek. 

Sore itu rasanya menjadi semakin riuh, berpacu dengan kerasnya suara klakson dan knalpot racing di jalanan. Dari yang awalnya hanya menganalisa teknis berselingkuh melalui aplikasi yang tak terduga itu, hingga pembahasan topik yang semakin menarik perhatian saya, hingga saya rela menyisihkan waktu untuk duduk di meja kantor, pukul 20:07 dan memilih untuk jangan pulang dulu. 
Topiknya antara lain: 
(1) Bagaimana cara mengetahui apakah "he/she the one"?
(2) Mengapa pria tidak bisa dengan 1 wanita saja?
(3) Alasan pria berselingkuh.
(4) Mengapa rata-rata selingkuhan wanita si pria not as attractive than his first lady?
(5) Apakah benar nyaman adalah kunci bagi kebanyakan pria?
(6) Apakah rasa "secure" adalah kunci bagi kebanyakan wanita?
Intinya, seingat saya tidak ada mulut yang diam, semuanya melontarkan opini dan pendapat liar tentang topik di atas. 

Sampai pada satu titik, salah seorang teman kami melontarkan kata sakti yang membuat bulu kuduk saya bergidik, yaitu "bercerai". 
Bercerai dalam kamus besar Bahasa Indonesia sendiri adalah sebagai berikut: 

bercerai/ber·ce·rai/ v 1 tidak bercampur (berhubungan, bersatu, dan sebagainya) lagi: sewaktu ditemukan kepalanya sudah ~ dari tubuhnya2 berhenti bersuami-istri;~ tidak bertalak (kalau bercerai tidak usah menjatuhkan talak), pb pertalian suami-istri yang tidak sah;

(setidaknya inilah arti kata bercerai sejauh saya googling)
Seketika itu terbahas tanpa sengaja di dalam forum group discussion, mendadak saya yang bacot ini menjadi diam tak berkutik seolah sedang cosplay menjadi crew backstage, tidak lagi seorang penampil ataupun moderator. Sungguh, nyali saya kicep kalau sudah ada yang membahas topik "bercerai". 
Entah mungkin kata ini terlalu impactfull bagi hidup saya, atau memang sudah dari sananya kata "bercerai" terlahir dengan aura dan energi yang negatif. 

Lalu mengapa ini menjadi alasan saya duduk manis, sambil mengetik tulisan ini?

Saya adalah seorang anak penyintas suatu keluarga yang mengalami fase bercerai berai layaknya sebuah guci china yang tidak sengaja jatuh dikarenakan gempa bumi. 
Saya adalah seorang adik dari kakak yang merupakan seorang duda beranak satu dan kesulitan untuk bertemu dengan anaknya sendiri setelah memutuskan bercerai.
Saya adalah seorang sahabat dari seorang wanita yang ujian hidupnya adalah bercerai sebanyak 2x dan memiliki 2 anak laki-laki lucu dari 2 ayah yang berbeda. 
Saya adalah seorang sahabat dari seorang pria dewasa yang pernah mendapati isterinya sedang bermesraan dengan sembarang pria disebuah lounge.
Saya adalah seorang sahabat dari seorang wanita muda yang sehari-hari nya merupakan kekasih dari pria beristri dan selalu menjalani hubungan dengan hati-hati tanpa kebebasan. 
Saya adalah seorang karyawati kantoran biasa yang memiliki kepekaan terhadap skandal percintaan beberapa orang yang terjadi di kantor, karena.........
Saya adalah seorang yang pernah melalui fase dimana secara tidak sengaja jatuh hati pada pria berkeluarga, namun setelah melalui banyak pertimbangan dan menyadari value diri sendiri, memilih untuk mundur perlahan.
Saya adalah seorang yang setelah melalui hal-hal di atas kemudian menjadi pribadi yang teramat sangat takut untuk jatuh cinta, khawatir berlebih terhadap masa depan dan selalu memiliki perasaan bias pada saat tertarik dengan lawan jenis dan ingin memulai hubungan dengan seseorang. Dengan kesadaran penuh saya menyadari kejadian "bercerai" ini berdampak besar pada pola pikir dan berubahnya prinsip hidup yang saya jalani.  

Kasih saya waktu bernafas karena saat menulis ini dada saya sedikit sesak. 

Lalu apa hal yang mendasari seorang suami-isteri memutuskan untuk bercerai?
Hal ini akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya. 


Note : apabila tulisan ini kamu anggap menarik, saya tunggu DM dari pembaca sekalian di instagram pribadi saya @gitalisaaa 
Feel free untuk kamu ungkapkan pendapatmu.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah Kontemplasi akan bermanfaat untukku?

Benarkah “life begin at 30?”